Thursday, 6 August 2015

Kepercayaan Diri

Saya terlahir di keluarga yang bahagia dan berkecukupan, sedari kecil, saya punya semua kemewahan-kemewahan yang tak banyak dimiiki anak-anak seusia saya. Kemewahan disini bukanlah kemewahan materi. Orang tua saya tidaklah kaya raya, bapak dan ibu saya adalah pedagan buku, alat tulis, dan kosmetik. Mereka tak memiliki uang sebanyak beberapa orangtua lain, namun mereka selalu mengusahakan apa yang saya butuhkan dan minta.
Kemewahan lain yang saya punya adalah kebebasan, kepercayaan, dan keberanian yang diajarkan orangtua saya. Bapak mengajari saya banyak hal, tentang keberanian dan kepercayaan. Saya dilatih bebas berbicara dan dirangsang untuk selalu ingin tahu. Sehingga sedari kecil saya punya banyak teman dan banyak orang menyukai saya, menurut saya. Hal-hal tersebut membuat saya hidup dengan kepercayaan diri yang baik, namun tetap rendah hati. Banyak kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, yang membuat saya semakin dapat berkomunikasi dengan baik. Masa SD yang saya jalani dengan kegiatan menari, menggambr, menulis. Lalu masa SMP dn SMA yang super sibuk dengan beberapa organisasi yang saya ikuti. Saya aktif di banyak kegiatan, meskipun saya tak menjadi leader, tapi saya kenal dan dikenal banyak orang.
Namun ternyata, masa kuliah tidak semudah bayangan saya. Banyak hal yang pada awalnya tidak menjadi beban lalu membebani dan membuat saya depresi.
Sejak kecil saya pemikir. Namun dampak berfikir saya tidak sejauh di masa kuliah. Beberapa ketidaksinkronan dalam kehidupan saya waktu itu berdampak banyak, lalu kepercayaan diri saya surut perlahan.
Kegagalan demi kegagalan saya lalui, Sebenarnya banyak juga keberhasilan yang saya raih, namun pola pikir saya yang tidak suka gagal membuat saya menjadi frustrasi dan malah fokus pada kegagalan, bukannya keberhasilan saya.
Perlahan saya mengalami ketidakcocokan dengan beberapa orang. Omongan-omongan negatif yang seharusnya memacu saya malah membuat saya down dan semakin minder. Saya memang masih punya banyak teman, namun ada yang salah dalam diri saya. Rsa minder yang mulai menghantui perlahan membuat saya berhenti membaca, menulis, menggambar, berkarya dengan hati. Beberapa karya yang saya buat pada akhirnya bukan sebgai buah imajinasi dan fikiran, namun hanya suatu keharusan dan tempat pelarian dari kegelisahan hidup.
Tidak! ini tidak seburuk itu. Ada kalanya saya positif, tulus, berkarya. Kepercayaan diri saya seperti habis di recharge, lalu saya jadi bersemangat. Namun ada kalanya saya kembali terpuruk. Tiba-tiba senang, tiba-tiba sedih. Mungkin itulah masa paling labil dalam hidup saya, cobaan-cobaan semakn beragam dan aneh.
Di tahun-tahun masa kuliah saya mulai mencari jati diri, Belajar hal-hal baru, ada yang positif, ada yang negatif. Pada akhirnya saya lulus kuliah di semester ke-13 perkuliahan saya. Sangat-sangat luar biasa!!
Sangat jarang perempuan menghabiskan waktu se-lama saya. Banyak waktu yang saya buang. Tapi ernyata banyak juga yang saya pelajari. Ketakutan-demi ketakutan saya alami, saya takut tidak sesuai dengan harapan orangtua. Saya takut gagal.
Hingga setelah kelulusan saya masih belajar dewasa, belajr positif, dan belajar untuk sabar, tidak marah, dan tidak membenci.
Ada banyak hal menyakitkan yang saya alami, namun mungkin ini proses pendewasaan. Saya terlalu kekanak-kanakan selama ini. Banyak orang lain yang dicoba jauh melebihi saya, dan saya tidak sekuat mereka.
Saya belajar banyak dari beberapa teman tentang makna hidup, tentang kehidupan mereka yang rumit, tentang permasalahan-permasalahan yang jauh diuar nalar saya. Lalu saya belajar positif. Sesungguhnya Allah sayang pada saya, oleh karena itu saya dicoba. Mungkin suatu saat nanti cobaan yang akan datang akan lebih besar, tapi satu hal, Allah tidak pernah menginggalkan hamba-hambaNya.
Dengan cobaan kita diajari untuk lebih dewasa dan tangguh. Kepercayaan diri yang pernah hilang perlahan pasti kembali. Sekarang pun saya merasa masih kecil hati, namun dengan menbaca tulisan-tulisan motivasi, serta bertukar fikiran dengan bapak, saya bisa perlahan bangkit kembali. Bahwa manusia memang tak selalu terlihat cemerlang, tapi yang terbaik adalah untuk berusaha selalu cemerlang.


"Bahwa manusia memang tak selalu terlihat cemerlang, tapi yang terbaik adalah untuk berusaha selalu cemerlang. "

No comments:

Post a Comment