Tuesday, 4 August 2015

Perihal Akal dan Rasa

Terus terang, belakangan ini saya sedang belajar bagaimana mengontrol perasaan menggunakan akal. Saya mersa saya telah lama hidup sebagai orang yang hidup dalam permainan perasaan. Terlalu berperasaan, terbawa perasaan, dan seringkali sibuk berkutat dengan rasa.

Pertama, saya mau berbicara tentang rasa, apa itu rasa. Rasa yang saya maksud disini adalah perasaan, Pengertiannya menurut KBBI adalah suatu keadaan batin saat menghadapi masalah, atau pertimbangan batin (hati) atas sesuatu. Perasaan yang sering kita alami adalah senang, sedih, marah, takut, benci, atau cinta.

Disaat saya menggunakan perasaan, maka ada semacam energi yang mendorong saya untuk mengalami sesuatu. Sesuatu ini muncul dengan tiba-tiba, dan ada kalanya saya ingin menyampaikan sesuatu ini pada orang sekitar, entah dengan kata atau tindakan. Ada kelegaan tersendiri ketika rasa yang saya alami telah sampai pada objek rasa tersebut. Misalkan sayang, meski tidak melalui ungkapan lisan atau tulisan, ada saja tekhnik penyampaian rasa tersebut, bisa jadi melalui tindakan, kotak fisik, ataupun gerak tubuh. Contoh lain marah, saat saya marah, saya seringkali sangat ingin menyampaikan pada objek kemarahan saya bahwa saya marah. Pun ketika saya marah pada diri sendiri, ada saja perang batin yang membuat saya merasa semakin bersalah. Maka disinilah letak permasalahannya. Setiap rasa, membutuhkan kontrol diri, dan menurut saya kontrol diri itu berasal dari akal.

Tuhan menganugerahkan akal bagi manusia adalah untuk mengontrol perasaan, begitupun sebaliknya. Pengertian akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu, atau jalan atau cara melakukan sesuatu.

Dalam tulisan ini saya ingin membahas akal sebagai jalan atau cara melakukn sesuatu. Ketika berbicara soal rasa, maka belum tentu seseorang berfikir ketika mengungkapkannya. Bisa jadi pengungkapan rasa tersebut tak dilandasi dengan akal, namun hawa nafsu. Bagaimana cara membadakannya? Ketika ada rasa yang dialami oleh seseorang, lalu dia melakukan sesuatu yang kemudian dia menyesal setelah melakukannya, maka bisa dibilang ini adalah rasa yang dikuasai hawa nafsu. Karena ketika seseorang menggunakan akal, maka dia akan berfikir mengenai baik buruk, atau dampak yang akan terjadi disaat dia melakukan hal yang diminta oleh perasaannya.

Akal manusia berfungsi memberi penalaran sistematis bagi seseorang untuk berfikir panjang, bahwa ada hal yang baik dan buruk, ada yang benar dan salah, ada sebab dan akibat. Sedangkan ketika berbicara perasaan, maka segala hal adalah sah sah saja. Bahwa saya mau cinta ya suka-suka saya, bahwa saya mau benci ya suka-suka saya. Namun saat akal mengcover perasaan, maka akan ada wacana baru dalam pikiran, yaitu apakah benar, saya boleh mencintai dengan seperti ini, atau apakah benar, saya membenci lalu saya ungkakan dengan begitu. Dalam diri manusia tersebut, saat akalnya digunakan, maka akan timbul pertimbangan lain yang pada akhirnya akan mengontrol diri dengan sendirinya.

Saya tak ingin menggurui, saya malah sangat lemah melawan nafsu untuk merasa. Ketika merasakan sesuatu, sebagian dari kita seringkali sulit sekal mengendalikan, sehingga mampu berbuat bodoh atau jahat sekalipun. Disini saya tak bermksud menyuruh untuk menahan rasa tersebut, namun berfikir, bagaimana cara mengalihkannya. Saya pun sedang dalam proses itu. Proses pengendalian diri melalui pengalihan, Ketika ada hal negatif yang menyangkut perasaan muncul, ada baiknya berusaha untuk mengalihkannya dengan mencoba berfikir hal-hal yang lebih menyenangkan. Melakukan hal lain yang bermanfat juga bisa jadi baik bagi perasaan, dan tak lupa, Tuhan tk pernah meninggalkan hambaNya. Kembali berserah, memohon kemudahan dan perlindungan mungkin bisa membantu kita mengolah rasa menjadi energi, bukan menikmati rasa sebagai energi yang menguasai diri.

Trimakasih banyak bagi anda yang berkenan membaca tulisan yang njelimet ini. semoga ada manfaatny bagi kita semua. :D

No comments:

Post a Comment