Thursday, 24 December 2015

Neverending Thinking, It's Almost 2016!!

Sudah empat bulan sejak saya stay di rumah kembali, di Kota Balikpapan. Ada banyak hal terjadi selama empat bulan ini, dan sejak tiga bulan terakhir saya mulai bekerja. Saya bukan sedang mau bercerita pekerjaan, yang saya mau tulis disini mungkin lebih kepada betapa kehidupan itu benar-benar tidak bisa diprediksi.
Rasa-rasanya banyak hal terjadi belakangan. Bukan, ini bukan tentang cinta, seperti sebelum-sebelumnya saya masih mati rasa soal cinta. Saya tidak pernah paham perihal cinta-cintaan, yang saya rasakan hanya memang perasaan masih mendominasi diri saya.
Entah kenapa banayak hal membuat saya ingin tertawa, hala tersebut berkaitan dengan kebodohan yang saya lakukan beberapa waktu lalu. Ya begitu, berkenalan dengan orang memang sangat mudah, namun mengenal orang lain tidak akan pernah semudah itu.
Saya sering kesal jika adanyang menilai saya hanya dari perkenalan singkat. Padahal baru memahami cover dan kata pengantar saya, sudah menganggap telah membaca keseluruhan diri saya. Mereka bahkan belum membuka daftar isi. Tapi memang banyak hal musti ada prosesnya, hal yang cepat terjadi tanpa proses malah akan cepat berakhir. Proses itu yang mengajarkan kedewasan.
Saya tidak pernah menganggap diri saya dewasa. Saya bahkan jauh dari kata dewasa. Bayangkan, usia 25 tahun, hobi baca buku fantasi, dengar musik pakai earphone, makan es krim, update sosmed status galau, main game di fun stasion berjam-jam, bicara dengan binatang sampai benda-benda dimuka bumi, dan banyak lagi ketidakdewsaan saya. Tapi bukan berarti setelah tau kebiasaan saya anda bisa merasa mengenal saya. Banyak hal yang masih harus dipelajari dari diri seseorang sebelum berkesimpulan.
Aduh, saya mulai berpanjang lebar membahas hal tidak jelas, ya mungkin ini salah satu kebiasaan buruk saya. yang jelas, mari saling mengenal melalui proses, proses percakapan. Percakapan di warung kopi berjam-jam, percakapan di sela makan siang, percakapan di waktu senggang, yang jelas bukan dari update sosmed dan obrolan media chat.
Wow, saya meracau...
selamat datang di Blooming Himawari, selamat menikmati racauan, nyinyiran, dan kata-kata sok bijak dari Gadis Alien ini...


Thursday, 6 August 2015

Kepercayaan Diri

Saya terlahir di keluarga yang bahagia dan berkecukupan, sedari kecil, saya punya semua kemewahan-kemewahan yang tak banyak dimiiki anak-anak seusia saya. Kemewahan disini bukanlah kemewahan materi. Orang tua saya tidaklah kaya raya, bapak dan ibu saya adalah pedagan buku, alat tulis, dan kosmetik. Mereka tak memiliki uang sebanyak beberapa orangtua lain, namun mereka selalu mengusahakan apa yang saya butuhkan dan minta.
Kemewahan lain yang saya punya adalah kebebasan, kepercayaan, dan keberanian yang diajarkan orangtua saya. Bapak mengajari saya banyak hal, tentang keberanian dan kepercayaan. Saya dilatih bebas berbicara dan dirangsang untuk selalu ingin tahu. Sehingga sedari kecil saya punya banyak teman dan banyak orang menyukai saya, menurut saya. Hal-hal tersebut membuat saya hidup dengan kepercayaan diri yang baik, namun tetap rendah hati. Banyak kegiatan-kegiatan yang saya ikuti, yang membuat saya semakin dapat berkomunikasi dengan baik. Masa SD yang saya jalani dengan kegiatan menari, menggambr, menulis. Lalu masa SMP dn SMA yang super sibuk dengan beberapa organisasi yang saya ikuti. Saya aktif di banyak kegiatan, meskipun saya tak menjadi leader, tapi saya kenal dan dikenal banyak orang.
Namun ternyata, masa kuliah tidak semudah bayangan saya. Banyak hal yang pada awalnya tidak menjadi beban lalu membebani dan membuat saya depresi.
Sejak kecil saya pemikir. Namun dampak berfikir saya tidak sejauh di masa kuliah. Beberapa ketidaksinkronan dalam kehidupan saya waktu itu berdampak banyak, lalu kepercayaan diri saya surut perlahan.
Kegagalan demi kegagalan saya lalui, Sebenarnya banyak juga keberhasilan yang saya raih, namun pola pikir saya yang tidak suka gagal membuat saya menjadi frustrasi dan malah fokus pada kegagalan, bukannya keberhasilan saya.
Perlahan saya mengalami ketidakcocokan dengan beberapa orang. Omongan-omongan negatif yang seharusnya memacu saya malah membuat saya down dan semakin minder. Saya memang masih punya banyak teman, namun ada yang salah dalam diri saya. Rsa minder yang mulai menghantui perlahan membuat saya berhenti membaca, menulis, menggambar, berkarya dengan hati. Beberapa karya yang saya buat pada akhirnya bukan sebgai buah imajinasi dan fikiran, namun hanya suatu keharusan dan tempat pelarian dari kegelisahan hidup.
Tidak! ini tidak seburuk itu. Ada kalanya saya positif, tulus, berkarya. Kepercayaan diri saya seperti habis di recharge, lalu saya jadi bersemangat. Namun ada kalanya saya kembali terpuruk. Tiba-tiba senang, tiba-tiba sedih. Mungkin itulah masa paling labil dalam hidup saya, cobaan-cobaan semakn beragam dan aneh.
Di tahun-tahun masa kuliah saya mulai mencari jati diri, Belajar hal-hal baru, ada yang positif, ada yang negatif. Pada akhirnya saya lulus kuliah di semester ke-13 perkuliahan saya. Sangat-sangat luar biasa!!
Sangat jarang perempuan menghabiskan waktu se-lama saya. Banyak waktu yang saya buang. Tapi ernyata banyak juga yang saya pelajari. Ketakutan-demi ketakutan saya alami, saya takut tidak sesuai dengan harapan orangtua. Saya takut gagal.
Hingga setelah kelulusan saya masih belajar dewasa, belajr positif, dan belajar untuk sabar, tidak marah, dan tidak membenci.
Ada banyak hal menyakitkan yang saya alami, namun mungkin ini proses pendewasaan. Saya terlalu kekanak-kanakan selama ini. Banyak orang lain yang dicoba jauh melebihi saya, dan saya tidak sekuat mereka.
Saya belajar banyak dari beberapa teman tentang makna hidup, tentang kehidupan mereka yang rumit, tentang permasalahan-permasalahan yang jauh diuar nalar saya. Lalu saya belajar positif. Sesungguhnya Allah sayang pada saya, oleh karena itu saya dicoba. Mungkin suatu saat nanti cobaan yang akan datang akan lebih besar, tapi satu hal, Allah tidak pernah menginggalkan hamba-hambaNya.
Dengan cobaan kita diajari untuk lebih dewasa dan tangguh. Kepercayaan diri yang pernah hilang perlahan pasti kembali. Sekarang pun saya merasa masih kecil hati, namun dengan menbaca tulisan-tulisan motivasi, serta bertukar fikiran dengan bapak, saya bisa perlahan bangkit kembali. Bahwa manusia memang tak selalu terlihat cemerlang, tapi yang terbaik adalah untuk berusaha selalu cemerlang.


"Bahwa manusia memang tak selalu terlihat cemerlang, tapi yang terbaik adalah untuk berusaha selalu cemerlang. "

Tuesday, 4 August 2015

Perihal Akal dan Rasa

Terus terang, belakangan ini saya sedang belajar bagaimana mengontrol perasaan menggunakan akal. Saya mersa saya telah lama hidup sebagai orang yang hidup dalam permainan perasaan. Terlalu berperasaan, terbawa perasaan, dan seringkali sibuk berkutat dengan rasa.

Pertama, saya mau berbicara tentang rasa, apa itu rasa. Rasa yang saya maksud disini adalah perasaan, Pengertiannya menurut KBBI adalah suatu keadaan batin saat menghadapi masalah, atau pertimbangan batin (hati) atas sesuatu. Perasaan yang sering kita alami adalah senang, sedih, marah, takut, benci, atau cinta.

Disaat saya menggunakan perasaan, maka ada semacam energi yang mendorong saya untuk mengalami sesuatu. Sesuatu ini muncul dengan tiba-tiba, dan ada kalanya saya ingin menyampaikan sesuatu ini pada orang sekitar, entah dengan kata atau tindakan. Ada kelegaan tersendiri ketika rasa yang saya alami telah sampai pada objek rasa tersebut. Misalkan sayang, meski tidak melalui ungkapan lisan atau tulisan, ada saja tekhnik penyampaian rasa tersebut, bisa jadi melalui tindakan, kotak fisik, ataupun gerak tubuh. Contoh lain marah, saat saya marah, saya seringkali sangat ingin menyampaikan pada objek kemarahan saya bahwa saya marah. Pun ketika saya marah pada diri sendiri, ada saja perang batin yang membuat saya merasa semakin bersalah. Maka disinilah letak permasalahannya. Setiap rasa, membutuhkan kontrol diri, dan menurut saya kontrol diri itu berasal dari akal.

Tuhan menganugerahkan akal bagi manusia adalah untuk mengontrol perasaan, begitupun sebaliknya. Pengertian akal adalah daya pikir untuk memahami sesuatu, atau jalan atau cara melakukan sesuatu.

Dalam tulisan ini saya ingin membahas akal sebagai jalan atau cara melakukn sesuatu. Ketika berbicara soal rasa, maka belum tentu seseorang berfikir ketika mengungkapkannya. Bisa jadi pengungkapan rasa tersebut tak dilandasi dengan akal, namun hawa nafsu. Bagaimana cara membadakannya? Ketika ada rasa yang dialami oleh seseorang, lalu dia melakukan sesuatu yang kemudian dia menyesal setelah melakukannya, maka bisa dibilang ini adalah rasa yang dikuasai hawa nafsu. Karena ketika seseorang menggunakan akal, maka dia akan berfikir mengenai baik buruk, atau dampak yang akan terjadi disaat dia melakukan hal yang diminta oleh perasaannya.

Akal manusia berfungsi memberi penalaran sistematis bagi seseorang untuk berfikir panjang, bahwa ada hal yang baik dan buruk, ada yang benar dan salah, ada sebab dan akibat. Sedangkan ketika berbicara perasaan, maka segala hal adalah sah sah saja. Bahwa saya mau cinta ya suka-suka saya, bahwa saya mau benci ya suka-suka saya. Namun saat akal mengcover perasaan, maka akan ada wacana baru dalam pikiran, yaitu apakah benar, saya boleh mencintai dengan seperti ini, atau apakah benar, saya membenci lalu saya ungkakan dengan begitu. Dalam diri manusia tersebut, saat akalnya digunakan, maka akan timbul pertimbangan lain yang pada akhirnya akan mengontrol diri dengan sendirinya.

Saya tak ingin menggurui, saya malah sangat lemah melawan nafsu untuk merasa. Ketika merasakan sesuatu, sebagian dari kita seringkali sulit sekal mengendalikan, sehingga mampu berbuat bodoh atau jahat sekalipun. Disini saya tak bermksud menyuruh untuk menahan rasa tersebut, namun berfikir, bagaimana cara mengalihkannya. Saya pun sedang dalam proses itu. Proses pengendalian diri melalui pengalihan, Ketika ada hal negatif yang menyangkut perasaan muncul, ada baiknya berusaha untuk mengalihkannya dengan mencoba berfikir hal-hal yang lebih menyenangkan. Melakukan hal lain yang bermanfat juga bisa jadi baik bagi perasaan, dan tak lupa, Tuhan tk pernah meninggalkan hambaNya. Kembali berserah, memohon kemudahan dan perlindungan mungkin bisa membantu kita mengolah rasa menjadi energi, bukan menikmati rasa sebagai energi yang menguasai diri.

Trimakasih banyak bagi anda yang berkenan membaca tulisan yang njelimet ini. semoga ada manfaatny bagi kita semua. :D

Sunday, 2 August 2015

Coretan Untuk Manusia

Manusia hidup sebagai manusia, dengan segala hak dan kewajibannya,
Manusia seharusnya manusiawi.
Manusiawi adalah salah satu sifat manusia
Manusiawi adalah sikap yang memanusiakan sesama manusia.
Ketika kamu tak memanusiakan manusia.
Maka kamu belum cukup manusiawai.
Lantas disaat kamu tak bisa bersikap  manusiawi, pantaskah kamu disebut mansia?
Saya tak berbicara kemanusiaan.
Karena pembahasan mengenai kemanusiaan masih terlalu jauh.
Ini masih sekedar pembahasan tentang sikap manusiawi.
Sesungguhnya manusia akan tetap manusia meski ada yang tak memanusiakannya.
Namun, tidakkah nurani kita cukup berfungsi untuk hidup lebih manusiawi?
Bersikap memanusiakan sesama manusia....

*Coretan ini saya dedikasikan bagi para manusia pem-bully sesama manusia. Mereka yang telah mem-bully secara sadar ataupun tak sadar.

Thursday, 2 April 2015

Tuesday, 31 March 2015

Kebahagiaan yang Tertunda

Akhirnya yang ditunggu-tunggu banyak orang yang sayang sama saya terjadi, my Graduation Day!!
Tepatnya 28 Maret kemarin saya resmi menyandang gelar sarjana. Mungkin bagi kalian lulus S1 itu hal yang biasa, Tapi bagi saya, menyelesaikan kuliah ini adalah hal yang hampir sulit saya percaya. Hampir tujuh tahun saya kuliah, semangat mengerjakan skripsi yang kembang kempis, and finally diusia 24 (yang menurut orang telat) saya bisa menyelesaikan S1 saya.
It isn't the end, it's the new beginning to reach my dreams. Banyak hal yang harus saya capai, tapi rasa syukur saya gak akan ada habisnya. Thank God, atas keluarga yang tak sempurna namun saling menyempurnakan.




got so many flowers

dapat kado sepatu dari adikkuu Ganda